Karena nila setitik, rusak susu sebelenga atau panas setahun hilang dengan hujan sehari. Peribahasa yang seringkali kita dengar baik kita masih duduk di eS De, eS eM Pe, eS eM A, perguruan tinggi, maupun di kehidupan kita sehari-hari. Karena sedikit kerusakan/kesalahan maka rusaklah keseluruhan, atau kesengesaraan yang berkepanjangan yang tiba2 terhapus begitu saja, bisa juga sebaliknya. Kesenangan yang terhapus begitu saja karena adanya sebuah kesalahan.Tidak adil ataupun tidak seimbang memang. Hanya karena hal kecil yang terjadi satu kali, hancur semuanya. Namun apalagi yang mau dikata, memang begitulah kehidupan. Penuh dengan misteri dan teka-teki. Tidak bisa diprediksi ataupun dikira-kira dan dipaksa menurut kehendak kita. Impian yang sangat tinggi, harapan yang teramat besar, kebahagiaan yang tiada tara bahkan merasa dapat bertahan selamanya saat bahagia, tiba-tiba dapat hancur seketika karena satu kesalahan. Tidak adil dan tidak seimbang dengan pengorbanan yang telah di capai memang, namun segala hal mengandung resiko yang harus di hadapi. Hal ini memunculkan keinginan untuk berontak ataupun mencari jalan keluar. Upaya apapun yang sudah seharusnya dilakukan, walaupun sudah dilakukan tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula, layaknya sebelum terjadinya kesalahan, paling tidak bisa berusaha agar lebih baik. Kata maafpun tak cukup hanya sekadar pengobat luka. Kata maaf hanya berfungsi sebagai penenang hati atau bahkan tak berfungsi sama sekali, karena kata maaf bisa dianggap hanya ritual yang selalu diucapkan kala seseorang melakukan kesalahan.
Setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya sendiri, apalagi kesempatan untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur kacau karena kesalahan tersebut. Namun terkadang, kesempatan untuk beberapa orang menjadi sangat tertutup, apabila yang bersangkutan tidak memberikan kesempatan tersebut. Padahal kesempatan adalah hak setiap orang yang mau berusaha untuk memperbaiki keadaan, walaupun hasilnya entah bisa membaik ataukah hanya sedikit lebih baik, paling tidak ada usaha untuk memperbaikinya, daripada berpangku tangan tanpa melakukan apa pun dan hanya berpasrah diri akan terjadi apa. Manusia memang tidak ada yang sempurna, namun bukan karena alasan tersebut, manusia menjadi mudah melakukan kesalahan, ataupun mempunyai alasan pembenar kala melakukan kesalahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar